Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

10 April 2016


Sejak meledaknya standup comedy di Indonesia sekitar lima tahun yang lalu, hingga saat ini sudah tidak terhitung ada berapa banyak komika yang bermunculan, baik itu yang berawal dari komunitas, atau dari sebuah ajang pecarian bakat yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi - belakangan ada TV nasional lainnya yang juga membuat ajang kompetisi semacam ini. Maka, tidak heran perjalanan standup comedy di Indonesia semakin berkembang, dan semakin diminati, dan ini bagus, karena paling tidak masyarakat punya banyak pilihan untuk menikmati komedi.

Namun, seperti halnya musik yang punya banyak genre, dan tidak semua bisa saya nikmati, begitu pula dengan standup comedy. Terhitung dari awal kemunculannya, hanya beberapa nama saja yang membekas hingga sekarang. Ada yang masih aktif di panggung standup comedy, dan ada yang sudah tidak tahu bagaimana kabarnya - entah mungkin saya yang tidak ter-update mengenai si komika atau memang si komika punya kesibukan lain yang membuatnya jadi jarang tampil di panggung stand up.

Diantara nama yang masih sering muncul di panggung standup comedy adalah Acho atau Muhadkly Acho, yang waktu awal kemunculannya membawakan materi mengenai Priok. Terakhir saya nonton Acho bulan Desember kemarin dalam event Jumat Keramat, yang diadakan oleh Transparancy International Indonesia (TII). Materi-materi yang dibawakan Acho selalu segar, lucu, dan menggelitik. Sama, seperti ketika kemarin malam, Acho tampil lagi dalam event stand-up comedy yang bertajuk #TalkofLife Part 1 (part 2 nya tanggal 16 April), materinya rata-rata baru - paling tidak baru pertama saya dengar. Acho menjadi opener dalam event kali ini, dan sebagai opener Acho berhasil memanaskan kami sebagai penonton. Jokes yang dilempar Acho, semuanya kemakan sama penonton sehingga menghasilkan tawa yang pecah.

#TalkofLife diadakan di Pong Me, Kemang, dan lokasi tempat diadakannya pertunjukan inilah yang menjadi bahan materi pembuka Acho yang menuai tawa dari seratus penonton yang hadir malam itu. Pong Me sendiri adalah sebuah cafe yang menyatukan unsur cafe dengan ping pong, mungkin buat pemilik cafe ini , idenya luar biasa, tetapi buat TNI ini mah biasa, lah setiap hari mereka main ping pong, sampai kemarin sempat menjadi juara ping pong mengalahkan Tiongkok. Kira-kira begitulah materi awal Acho dalam membuka penampilan malam itu.

Materi ini baru pertama saya dengar, sehingga terasa segar, dan sebagai awalan, Acho berhasil membuat saya ngakak, terutama ketika dia bilang, "Untung Bu Susi, ngeledakin kapal-kapal, jadi TNI palign gak ngelakuin job desk sesungguhnya. Kasian TNI kita, kerjanya cuma main pingpong," dan yang paling gong adalah ketika Acho bilang, motor aja kalau ga di panasin bisa macet, apalagi Tank. Buat yang nonton kemarin, pasti paham, dan buat yang cuma baca melalui tulisan ini, semoga suatu saat kalian punya kesempatan mendengar materi ini secara utuh, karena asli lucu banget.

Materi Acho lainnya yang juga membekas kemarin malam adalah soal ketangkapnya anggota TNI, DPR dan sipil yang pesta narkoba bareng, punchline nya adalah "Pancasila aja susah buat nyatuin mereka," Ini ngakak parah sih, sambil bergumam dalam hati, bisa-bisanya kepikiran ya. Bit soal menjadi tua, juga kalau dipikir-pikir benar juga, dan udah mulai ngalamin sih - apakah ini tandanya saya mulai menua juga hahahah - lalu, bit soal kondom dan vagina juga lucu, tapi saya gak akan tulis di sini, He he he. Intinya penampilan Acho malam itu berhasil memuaskan saya yang yang emang dari dulu selalu suka dengan materi-materinya, dan hingga saat ini belum pernah kecewa sih dengan penampilan Acho. Good Job ACHO!!!


Setelah Acho tampil, maka giliran Adri yang tampil, di awal-awal saya kok ngerasa kaya Adri agak terbata-bata ya, jujur di awal-awal agak capek denger Adri menyampaikan materinya, walau tidak mengurangi kelucuan dari maeri yang dibawakan. Tapi itu hanya berlangsung di menit-menit awal, selanjutnya Adri tampil prima, hingga akhir acara. Adri ini salah satu komika yang bisa dihitung dengan jarinya muncul di TV, makanya bener kata Adri, ketika menyapa kami yang datang untuk nonton "Makasih udah mau meluangkan waktunya untuk datang kemari, nonton standup yang kalu di tanya ama temen, siapa yang tampil juga susah ngejelasinnya," hahahahah kira-kira begitu yang Adri katakan. Bener banget Dri, saya suka susah kalau mau jelasin siapa itu Adriano Qalbi, tapi yang jelas, Adri ini yang materi-materinya gokil sih, walau dengan cara penyampaian yang cepat, tapi Adri mampu mengutarakan materi dari sudut pandangnya, dan menurut saya sudut pandang yang digunakan Adri ini cerdas.

Sekadar info, materi Adri ga cocok untuk mereka yang cuma mau ketawa tanpa mikir, karena bisa dipastikan kalau lambat mencerna materi Adri, pasti jatuhnya antara gak ngerti atau akan menganggap materinya gak lucu, atau bakalan bilang "males ah, mau ketawa aja pakai mikir dulu, Tapi percaya deh sama saya, kalau kalian bisa mencerna materi Adri, pasti bisa ngakak sampai sakit perut bahkan akan standing ovation. Makanya ketika saya tahu, bahwa di part pertama #TalkofLife ini ada Adri, saya berniat untuk datang. Tetapi niat tinggalah niat, ketika sehari sebelum pertunjukan ini berlangsung, saya coba telpon Teddy - nama yang tertera di e-poster acara untuk memesan tiket - dan ternyata tiket sudah habis terjual, gak ada OTS. Antara kesal dan menyesal. Saya berpikir bahwa akan ada tiket OTS.

Tapi, saya gak pantang menyerah, hari Sabtu, beberapa jam sebelum pertunjukan saya mencoba search di twitter, kali-kali aja ada yang mau jual tiketnya, dan.......termasuk golongan orang-orang yang beruntung lah saya ketika ternyata ada yang jual kelebihan tiket, karena temannya gak jadi nonton. Tanpa pikir panjang, saya langsung mention pemilik tiket tersebut : Budi Iskandar ( yang lucunya saat acara, secara gak sengaja kami duduknya sebelahan). Emang dasar rejeki, akhirnya saya dapat tiket pertunjukkan malam itu.

Lalu, materi Adri yang mana yang membekas?
Akting sinetron yang sama kaya bokep. Ha ha ha materi ini cukup menarik,
Kehidupan setelah pernikahan : betapa annoyingnya suara hairdryer di pagi hari, dan udahlah terima aja, cewek itu kalau make up ama gak make up emang beda. Materi ini bangke sih sebenernya, tapi lucu banget. Dan soal kenapa kalau udah nikah dan lagi berantem, kudu udah baikan sebelum tidur, bukan karena umur gak ada yang tau, tapi lebih karena, males aja gitu bangun pagi dan harus melihat muka orang yang rasanya mau dicekek semalam.

Daaaaannnn Adri menutup dengan materi soal pijet, pijet plus-plus, pijet plus-plus yang akhirnya pakai hati, ya gak papa juga kalau sampai pakai hati dan mau dinikahin. Sama aja kaya ya gak papa juga kalau mau beli mobil seconda kan, tapi jangan heran kalau pas ada teman yang naik mobil lo dan bilang "KAYA PERNAH NAIK MOBIL INI,"

Akhirnya malam Minggu yang agak gerimis serta diwarnai pulang ketemu bubaran bola di Senayan itu menyisakan tawa yang masih membekas sampai sekarang. Seratus ribu yang gak sia-sia. Kurangnya cuma satu : KURANG LAMA. Ha ha ha

3

24 November 2015


Beberapa hari yang lalu saya iseng mampir ke blognya Pandji, sudah cukup lama saya tidak pernah melakukan aktivitas blog walking. Begitu halaman blog Pandji terbuka, tulisan terbaru yang saya lihat berjudul "Bukan di TV", dengan kalimat pertama yang cukup mengejutkan "Sebelas12 di Kompas TV sudah tidak ada", langsung saya klik judul tersebut, dan seperti yang tertuang dalam kalimat pertama bahwa memang Sebelas12 sudah tidak mengudara lagi di Kompas TV. Jujur saya sedih karena kehilangan tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga kreatif. Biasanya ketika sampai kos - saya biasa sampai kos hampir menjelang jam 11 malam - saya langsung menyalakan TV dan menunggu tayangan Sebelas12. Setelah tidak ada, rasanya seperti ada yang hilang. Ini hampir sama dengan perasaan saya beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2006, ketika Farhan memiliki program acara Om Farhan, dan ketika acara itu tidak lagi ada, seperti kehilangan sesuatu.

Jujur saja tidak banyak acara bincang-bincang, talkshow atau late night show di televisi Indonesia yang bisa saya nikmati. Rata-rata apa yang disajikan isinya hanya menjadikan bintang tamu sebagai pajangan, sisanya hostnya akan sibuk sendiri dengan banyolan-banyolannya atau bully-an nya terhadap penonton. Tetapi hanya di Om Farhan dan Sebelas12, saya sebagai penonton menikmati setiap segmen dari acara tersebut. Saya masih ingat betul dulu di Om Farhan yang disiarkan di Antv, selalu di awali dengan Farhan yang akan memberikan sedikit info terbaru dengan gaya semacam orang lagi stand-up, karena selalu ada punchline nya, lalu setelahnya akan ada Valerina Daniel (salah satu news anchor Antv) yang membawakan berita-berita terkini. Konsep acaranya sendiri lebih banyak membahas mengenai politik, sosial dan entertainment. Tetapi tentu dibahas secara santai dan ringan, tetapi berisi.

Kalau ada yang tidak tau, atau tidak ingat, di bawah ini kira-kira cuplikannya, yang saya ambil dari youtube :





Beberapa tahun berlalu setelah Om Farhan tidak lagi ada, walau banyak acara talkshow, tetapi tidak banyak yang menarik perhatian saya layaknya Om Farhan. Sempat waktu itu beberapa kali saya menonton Radio Show di TV one, tetapi tidak sering, bisa dihitung dengan jari lah. Sampai akhirnya saya tahu melalui twitter, bahwa Pandji membuat acara "Sebelas12" tayang setiap jam sebelas sampai jam duabelas malam.Ada beberapa hal yang menarik, yang melekat dalam benak saya ketika menyebut acara Sebelas12 :
1. Walau jelas-jelas di episode-episode awal terlihat penontonnya adalah penonton bayaran, tetapi Pandji selalu menyebut bahwa penonton nya berasal dari komunitas. Nah, nama-nama komunitasnya ini yang aneh-aneh, berupa singkatan-singkatan yang memancing tawa.
2. Pandji selalu mengawali dengan monolog, membahas sesuatu yang menarik, atau yang sedang menjadi pembicaraan di masyarakat dengan gaya standup
3. Siapapun bintang tamu yang diundang, entah kenapa selalu jadi lucu di acara ini. Jarang saya tidak tertawa. Epiosde yang saya tonton dan berhasil membuat rahang serta perut pegal karena kebanyakan ketawa adalah saat Yuda Keling menjadi bintang tamu, saat itu berasama Asty Ananta. Selain itu episode saat Edric Tjandra, Saipul Jamil dan Jeremy Teti jadi bintang tamu pun berhasil membuat saya ngakak malam-malam. Dan tentuya masih banyak lagi episode-episode yang menarik dan lucu. Di Sebalas12, seperti yang diutarakan Pandji dalam blognya bahwa "Dari artis sampai desainer, juga anggota DPR, sampai Menteri pernah jadi tamu kami. Semuanya menjadi lucu hanya dengan menjadi diri mereka sendiri". "Kami membuat mereka (para tamu) lucu & tidak asik lucu lucuan sendiri. Becandaan saya dalam obrolan, berangkat dari cerita & omongan para tamu."  Ya, saya setuju dengan apa yang ditulis Pandji ini, karena memang benar, terlihat sekali bahwa bintang tamu di Sebelas12 nyaman menjadi tamu di acara ini.




4. Tarian Anaconda Dont - entah apa yang ada dipikiran Pandji saat memutuskan menari ini di hadapan para tamunya. Saat awal ngelihat saya agak-agak geli gimana gitu ngeliat Pandji yang biasanya standup atau ngerap, tiba-tiba melakukan tarian ini. Tapi yang menarik adalah melihat ekspresi para tamu nya ketika disuguhkan tarian ala Nicky Minaj, ekspresinya pada EPIC semua. hahahah
5. Setelah tarian Anaconda Dont tidak ada, penggantinya adalah Kata Kejutan. Saya agak susah menjelaskan 'Kata Kejutan' ini, mungkin bisa di search di google. Tapi sama halnya dengan tarian Anaconda Dont. Kata Kejutan ini juga berhasil membuat ekspresi para tamu jadi bener-bener bingung, dan bertanya "Apaan sih tadi", dan buat penonton seperti saya, ini bagian yang menarik
6. Pandji itu banci nyanyi, satu episode yang saya ingat ketika battle nyanyi dengan Joy Tobing. Ini salah satu episode favorite saya
7. Selain banci nyanyi, Pandji juga senang banget menirukan gaya Glen Fredly kalau lagi nyanyi. Kadang bosen, karena mungkin saya keseringan liat kali ya. Tapi buat yang belum pernah liat, mungkin ini menarik
8. Kadang ada standup di sela-sela acara
9. Pernah ada lipsync battle kaya di Jimmy Fallon gitu, tapi menurut saya flop, karena cuma Pandji yang lipsyncnya ekspresif, sementara tamunya banyakan bingungnya
10. Games di Sebelas12 cukup kreatif
11. Ada co-hostnya, kadang Jordi Onsu, kadang Mc Danny, kadang ada dua-duanya jadi co-host dalam satu episode. Sempat ada Kartika Putri, dan Cika Jessika, tetapi pada akhirnya hanya yang laki yang jadi Co Host.
12. Homeband dengan nama yang cukup nyeleneh "Sebut Saja Homband"
13. Obrolan dengan para tamunya menarik untuk disimak, karena - lagi-lagi seperti yang dikatakan Pandji dalam blognya - tidak melulu yang di bahas soal keartisannya, atau gosipnya, tetapi hal-hal selain itu, yang tentunya menjadi sangat menarik karena cara Pandji menanyakan seperti layaknya ketika kita lagi ngobrol dengan teman.

Itulah kira-kira yang berhasil saya ingat dari acara yang saat ini sudah tidak lagi ada : Sebelas12. Saya mendukung setiap karya Pandji, tetapi saya juga berharap acara seperti ini akan ada lagi, siapapun Hostnya. Mungkin ada Farhan atau Pandji lainnya yang nantinya punya acara semacam Late night show di luar negeri yang gak cuma mentingin rating dan bisa bertahan lama. AMIN
2

08 August 2015

Melanjutkan tulisan yang tertunda sangat amat lama, akhirnya saya harus ekstra keras untuk mengingat kembali perjalanan ke Korea beberapa bulan yang lalu - self toyor karena ga disiplin. Baiklah untuk memulai tulisan kali ini, saya mau cerita sedikit mengenai Beewon Guest House tempat saya menginap saat ke Korea.

Sebagai gambaran, saya sebenarnya tidak sengaja memilih penginapan ini. Jadi, saat itu ada promo dari Air Asia : Tiket penerbangan + Hotel. Pertimbangan saya dan travelmate yang paling utama saat itu sudah pasti adalah HARGA!. Maklum kami adalah traveler yang jalan-jalan tergantung promo maskapai penerbangan. Baru setelah itu yang juga penting adalah penginapan tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Nah soal yang ini, kuncinya harus sering-sering browsing, dan nanya-nanya sama yang sudah pernah ke Korea. Setelah cek-cek harga dan lokasi nya, maka jatuhlah pilihan di Beewon Guest House ini. Saat itu sebenarnya kami hanya mengambil satu malam saja, kamar double standar, 1 double bed, non smoking room dengan harga kalau tidak salah sekitar 42000 KRW atau kalau di rupiahin RP 485,520 (saat itu 1KRW = Rp 11,56). Nah sisanya saya cari di hostelworld.com, ketemu lah penginapan di daerah Itaewon untuk 5 malam, harga per malamnya gak nyampe 250ribu. Tapi, pada kenyataannya setelah sampai di Korea, dan setelah sampai di Beewon Guest House, saya dan travelmate memutuskan untuk tetap menginap di sini saja, dengan pertimbangan :

1.       Daerah Itaewon ternyata jauh
2.       Males geret-geret koper lagi
3.      Lokasi Beewon di Insadong, dekat untuk kemana-mana
4.       Tempatnya nyaman
5.       Resepsionisnya lucu (Oke abaikan point yang terakhir ini! asli ga penting J)

Dan, untungnya masih ada kamar dormitory yang tersisa – dengan 4 tempat tidur. Maka untuk malam-malam selanjutnya kami tidur di dormitory, lagi-lagi karena menyesuaikan dengan budget.
Yang saya suka dari Beewon, selain lokasinya, adalah di sini berasa kaya di rumah. Ada ruang makan dan dapur, yang menjadi tempat mingle dengan para traveler lain dari berbagai Negara yang berbeda-beda. Saat itu saya dapat roommate (selain travelmate saya) dari Malaysia. Namanya Aunty Lin. Orangnya ramah, berasa seperti Ibu sendiri. Menjelang hari terakhir, kami kedatangan roommate dari Perancis. Di ruang makan ini, biasanya pagi sekitar jam 9, sebelum mengeksplor Korea, kami menikmati sarapan yang di sediakan oleh Beewon. Sarapannya  sih ga pernah ganti, selalu roti, tapi kalau mau buat sarapan sendiri ada kompor, yang bisa di pakai, walau ada ketentuan jam berapa bisa memakainya. Selain itu ada kulkas, microwave dan toaster juga. Di ruang makan ini, saya dan travelmate sempat berkenalan dengan pasangan suami-istri (plus mertua) dari Thailand. Selain itu ada pula keluarga dari Malaysia – teman aunty Lin. Serta ada satu orang perempuan dari China yang dari hari pertama kami ada di situ, gak pernah senyum apalagi ngobrol. Asli serem banget. Sarapannya Cuma bubur. Mukanya kaku banget, dan baru tahu pas sudah akhir-akhir kami ada disitu, kalau dia ternyata abis operasi plastik. Oke lah kalau begitu, pantas saja gak pernah senyum apalagi ngobrol saat awal-awal. Dan tentunya masih banyak lagi rekan sesama traveler yang kami temui dan sempat bertukar sapa selama kami ada di sana.


Fasilitas lain yang ada di Beewon adalah ruang laundry. Saya dan travelmate sempat mencuci beberapa helai pakaian, dan bisa di jemur di lantai dua. Ada juga fasilitas komputer dan ruang menonton– walau di dalam kamar ada tv nya juga. Dan yang paling penting wifinya lumayan cepat, jadi gak perlu khawatir kalau mau nyampah postingan di social media. Hehehe. Staf di Beewon pun cukup ramah, beberapa di antaranya rajin menyapa saat bertemu di ruang makan.


Kamar Dormitorynya. Gambar di ambil dari sini






Tapi, ada tapinya…. Letak Beewon agak ke dalam, jadi buat yang baru pertama kali mungkin agak susah. Intinya sih sebenernya setelah keluar dari Exit 4 Anguk Station jalan aja ke kiri – yang ada pos polisinya- lalu ikutin jalan sampai nemu KB Bank, gak jauh dai situ aada Seven Eleven, nah, lokasinya persis di belakang Sevel.

 Jadi buat yang punya rencana ke Korea, boleh di coba nginap disini.


 P.s : Kalau ada yang mau nanya-nanya lebih lanjut, tinggalin aja komen di kolom komentar dan alamat email. Insya Allah akan saya bantu jawab
16

27 December 2013

Mumpung masih inget, mumpung masih segar di ingatan, dan yang paling penting mumpung lagi niat, saya mau sedikit mencatat soal Mesakke Bangsaku, 21 Desember lalu. Ini adalah show special ke tiga Pandji yang saya tonton, setelah sebelumnya di 2011 dan 2012 ada Bhineka Tunggal Tawa dan Merdeka Dalam Bercanda. Gak kerasa sudah setahun berlalu dari pertunjukkan di 2012, waktu itu saya mencatat nya di sini, di foto yang saya posting di bagian akhir, tertulis 'Menanti 2013', daaaaan tadaaa, ternyata gak lama menunggu 2013. Dan seperti yang sudah saya duga, show nya selalu mengundang decak kagum, tawa yang pecah, standing ovation, serta pembelajaran baru. Pokoknya selalu ada nilai lebih dari sekedar tertawa.

Kegelisahan Pandji akan pendidikan Indonesia dan bagaimana kaum minoritas di perlakukan di negara ini di ungkap secara cerdas dan lucu selama dua jam lima menit. Waktu yang sangat lama untuk seseorang bisa dengan lancar dan sukses membuat hampir 1200 orang yang hadir di Teater Jakarta Taman Ismail Marjuki, tertawa terbahak-bahak, sambil berpikir 'iya bener juga ya' dalam waktu yang bersamaan.

Seperti biasa show Pandji (apapun itu) selalu mulai tepat waktu, jam delapan teng!
Dibuka denga penampilan Arief Didu, komika yang jarang di kenal sebagai komika. Untuk itulah mungkin ia dipilih Pandji sebagai opener, karena dari sekian banyak komika, dia yang paling mesakke (kasihan). Gak mesakke gimana coba, lebih sering di telpon untuk di tanya nomor telpon komika lain, padahal sendirinya adalah komika. Ibaratnya si Arief pedagang tahu di pasar yang di datangi ibu-ibu, kemudian di tanya "Bang, pedagang tahu yang sebelah gak jualan?" dan di jawab "Gak bu, kenapa?" " si ibu pun menjawab "Mau beli tahu bang," "Lha kan saya jualan tahu juga buuuuuuu,". Begitu lah kira-kira, Arief meng-analogikan dirinya seperti pedagang tahu yang gak dianggap pedagang tahu :))

Setelah kurang lebih lima belas menit  - kalau saya ga salah - Arief Didu melempar bit-bitnya, yang di balas penonton dengan tawa yang renyah, maka penampilan yang ditunggu-tunggu dari sang empunya acara hadir dengan balutan Jas dan kemeja Hitam, yang dari bangku penonton Diamond terlihat lebih langsing (ini beneran, bukan pereus). Penampilan Pandji di awali dengan terbukanya tirai hitam yang ada di panggung, lalu terlihat lah latar panggung dengan pohon yang mesakke dan satu kursi serta meja yang menemani. Pandji kemudian membuka shownya dengan agak sedikit berani cenderung beresiko, dengan berujar bahwa untuk yang baru pertama kali nonton shownya GUOBLOK, karena udah dua kali bikin show kenapa baru sekarang nonton. Dan saya cuma bisa nyengir, ups! Start yang bagus sebenarnya, karena mungkin akan membuat penonton yang baru kali pertama hadir, akan semakin penasaran seberapa menghibur dan pinternya Pandji sih dalam stand up comedy. Dan bisa jadi bumerang, jika seandainya malam itu Pandji diluar harapan, dengan kata lain misal show nya gak sukes, joke nya basi, delivery serta act outnya gagal. Tapi bukan Pandji namanya, kalau tidak bisa mendelivery materi dengan sangat cerdas. Maka mungkin, ini mungkin lho ya, setelah show malam itu, ketika Pandji berhasil bikin pecah tawa semua yang hadir, penonton yang baru pertama kali datang akan balik berujar ke dirinya sendiri : iya ya goblok ya gue ya, kenapa baru datang sekali ini, kalau tahu show nya sepecah ini.

Setelah puas menggobloki penonton, Pandji memulai melempar bit demi bit, di buka dengan bit tatapan kasih putih Glen Fredly, lalu memaparkan data mengenai golongan minoritas di Indonesia, termasuk di dalamnya golongan pengusaha, keturunan tionghoa, difabel, dan gay (kalau ada yang kurang, maaf, karena saya ga nyatet, cuma berdasar ingatan). Bit yang memorable dan buat saya ketawa kalau mengingatnya adalah bit soal berteman dengan gay, dan gay main voli. Bit soal berteman dengan gay itu buat cewe benar adanya. Berteman dengan gay itu menyenangkan, dan mereka sangat menghibur. Kemampuan Pandji dalam riffing pun tidak perlu di ragukan, selalu berhasil. Penonton yang ada di kursi depan harus selalu waspada, karena bisa jadi korban riffing Pandji. Ga peduli, cowo atau cewe, tua atau muda, straight atau gay.

Bit Pandji favorit saya adalah ketika menjadikan Dipo (anak pertamanya) dan Mba Mila (istrinya) sebagai bahan. Bit soal ngorok dan ngigau, serta bit soal ngajak Dipo sholat Jumat bener-bener bikin ketawa gak berhenti. Selain jago riffing, kemampuan act out Pandji juga luar biasa. Sejauh ini yang saya tahu oke dalam act out adalah Pandji dan Ge Pamungkas (mohon di bantu diingatkan kalau ada yang lainnya). Walaupun jarak dari kursi saya ke panggung cukup jauh, tapi terbantu dengan dua giant screen yang ada di sisi kiri dan kanan panggung, sehingga penampilan act out Pandji terlihat dengan jelas.

Malam itu Pandji menjadikan kegelisahannya terhadap pendidikan sebagai materi yang cerdas sekaligus lucu.
Perhatikan gambar di bawah ini :
Foto dari twitter
Begitulah yang terjadi di negara kita, sistem pendidikan di tentukan oleh standard, dan Pandji membahasnya dengan analogi-analogi yang mampu membuat tertawa dan mengangguk-angguk membenarkan. Selain itu Pandji juga mengungkapkan kenyataan susahnya menjadi beda karena takut dianggap bodoh, padahal mungkin sebenarnya visioner :)) buat yang nonton pasti tahu bit yang mana ini. Bit soal pertanyaan berapa planet yang ada di bumi.

Selain itu, hal yang penting yang juga diungkapkan Pandji adalah soal membedakan fakta dan opini, karena media belakangan suka mencampurkan opini ke dalam muatan beritanya. Terakhir, Pandji melempar materi yang jadi favorit saya (mungkin juga semua penonton malam itu) soal pencurian mesin atm yang gagal. Sumpah ya ini Pandji iseng bener nyari berita soal ini, tapi kalau gak gitu, saya juga gak tau kalau ada yang guoblok nya kebangetan. Udah berhasil bawa mesin atm nya ke rumah, tanpa ketahuan, eh malah ending ceritanya harus di penjara juga, gara-gara tetangganya curiga saat si maling membanting-banting barang yang ada di rumahnya lantaran kesel. Lha napa kesel? soalnya yang doi bawa, mesin atm no tunai. Goublokkkkk :))))

Begitulah kira-kira yang berhasil saya catat dalam memori ingatan saya yang kapasitasnya gak gede ini. Pandji membuktikan, semakin tahun, performanya sebagai stand up comedian semakin menunjukkan kualitas. Tiket termahal 400 ribu pun di beli penonton. Ini pun menjadi rekor saya dalam membeli tiket stand up yang biasanya berkisar di harga seratus ribuan, kini saya harus mengeluarkan tiga ratus tibu untuk menonton sebuah pertunjukkan. Lebih dari pertunjukkan sebenernya, karena sejatinya ini adalah sebuah karya, dan saya menghargai karya-karya nya Pandji. Untuk itu saya puas dengan apa yang saya saksikan malam itu. Sekali lagi saya pulang dengan tawa yang sangat pecah.

Di akhir pertunjukkan, setelah Pandji melempar bit nya yang terkahir, kami semua, penonton yang datang malam itu, memberikan standing ovation buat Pandji. You deserve it mas :)


0

Author

BTemplates.com

Checkpagerank.net