Showing posts with label stand-up comedy. Show all posts
Showing posts with label stand-up comedy. Show all posts

10 April 2016


Sejak meledaknya standup comedy di Indonesia sekitar lima tahun yang lalu, hingga saat ini sudah tidak terhitung ada berapa banyak komika yang bermunculan, baik itu yang berawal dari komunitas, atau dari sebuah ajang pecarian bakat yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi - belakangan ada TV nasional lainnya yang juga membuat ajang kompetisi semacam ini. Maka, tidak heran perjalanan standup comedy di Indonesia semakin berkembang, dan semakin diminati, dan ini bagus, karena paling tidak masyarakat punya banyak pilihan untuk menikmati komedi.

Namun, seperti halnya musik yang punya banyak genre, dan tidak semua bisa saya nikmati, begitu pula dengan standup comedy. Terhitung dari awal kemunculannya, hanya beberapa nama saja yang membekas hingga sekarang. Ada yang masih aktif di panggung standup comedy, dan ada yang sudah tidak tahu bagaimana kabarnya - entah mungkin saya yang tidak ter-update mengenai si komika atau memang si komika punya kesibukan lain yang membuatnya jadi jarang tampil di panggung stand up.

Diantara nama yang masih sering muncul di panggung standup comedy adalah Acho atau Muhadkly Acho, yang waktu awal kemunculannya membawakan materi mengenai Priok. Terakhir saya nonton Acho bulan Desember kemarin dalam event Jumat Keramat, yang diadakan oleh Transparancy International Indonesia (TII). Materi-materi yang dibawakan Acho selalu segar, lucu, dan menggelitik. Sama, seperti ketika kemarin malam, Acho tampil lagi dalam event stand-up comedy yang bertajuk #TalkofLife Part 1 (part 2 nya tanggal 16 April), materinya rata-rata baru - paling tidak baru pertama saya dengar. Acho menjadi opener dalam event kali ini, dan sebagai opener Acho berhasil memanaskan kami sebagai penonton. Jokes yang dilempar Acho, semuanya kemakan sama penonton sehingga menghasilkan tawa yang pecah.

#TalkofLife diadakan di Pong Me, Kemang, dan lokasi tempat diadakannya pertunjukan inilah yang menjadi bahan materi pembuka Acho yang menuai tawa dari seratus penonton yang hadir malam itu. Pong Me sendiri adalah sebuah cafe yang menyatukan unsur cafe dengan ping pong, mungkin buat pemilik cafe ini , idenya luar biasa, tetapi buat TNI ini mah biasa, lah setiap hari mereka main ping pong, sampai kemarin sempat menjadi juara ping pong mengalahkan Tiongkok. Kira-kira begitulah materi awal Acho dalam membuka penampilan malam itu.

Materi ini baru pertama saya dengar, sehingga terasa segar, dan sebagai awalan, Acho berhasil membuat saya ngakak, terutama ketika dia bilang, "Untung Bu Susi, ngeledakin kapal-kapal, jadi TNI palign gak ngelakuin job desk sesungguhnya. Kasian TNI kita, kerjanya cuma main pingpong," dan yang paling gong adalah ketika Acho bilang, motor aja kalau ga di panasin bisa macet, apalagi Tank. Buat yang nonton kemarin, pasti paham, dan buat yang cuma baca melalui tulisan ini, semoga suatu saat kalian punya kesempatan mendengar materi ini secara utuh, karena asli lucu banget.

Materi Acho lainnya yang juga membekas kemarin malam adalah soal ketangkapnya anggota TNI, DPR dan sipil yang pesta narkoba bareng, punchline nya adalah "Pancasila aja susah buat nyatuin mereka," Ini ngakak parah sih, sambil bergumam dalam hati, bisa-bisanya kepikiran ya. Bit soal menjadi tua, juga kalau dipikir-pikir benar juga, dan udah mulai ngalamin sih - apakah ini tandanya saya mulai menua juga hahahah - lalu, bit soal kondom dan vagina juga lucu, tapi saya gak akan tulis di sini, He he he. Intinya penampilan Acho malam itu berhasil memuaskan saya yang yang emang dari dulu selalu suka dengan materi-materinya, dan hingga saat ini belum pernah kecewa sih dengan penampilan Acho. Good Job ACHO!!!


Setelah Acho tampil, maka giliran Adri yang tampil, di awal-awal saya kok ngerasa kaya Adri agak terbata-bata ya, jujur di awal-awal agak capek denger Adri menyampaikan materinya, walau tidak mengurangi kelucuan dari maeri yang dibawakan. Tapi itu hanya berlangsung di menit-menit awal, selanjutnya Adri tampil prima, hingga akhir acara. Adri ini salah satu komika yang bisa dihitung dengan jarinya muncul di TV, makanya bener kata Adri, ketika menyapa kami yang datang untuk nonton "Makasih udah mau meluangkan waktunya untuk datang kemari, nonton standup yang kalu di tanya ama temen, siapa yang tampil juga susah ngejelasinnya," hahahahah kira-kira begitu yang Adri katakan. Bener banget Dri, saya suka susah kalau mau jelasin siapa itu Adriano Qalbi, tapi yang jelas, Adri ini yang materi-materinya gokil sih, walau dengan cara penyampaian yang cepat, tapi Adri mampu mengutarakan materi dari sudut pandangnya, dan menurut saya sudut pandang yang digunakan Adri ini cerdas.

Sekadar info, materi Adri ga cocok untuk mereka yang cuma mau ketawa tanpa mikir, karena bisa dipastikan kalau lambat mencerna materi Adri, pasti jatuhnya antara gak ngerti atau akan menganggap materinya gak lucu, atau bakalan bilang "males ah, mau ketawa aja pakai mikir dulu, Tapi percaya deh sama saya, kalau kalian bisa mencerna materi Adri, pasti bisa ngakak sampai sakit perut bahkan akan standing ovation. Makanya ketika saya tahu, bahwa di part pertama #TalkofLife ini ada Adri, saya berniat untuk datang. Tetapi niat tinggalah niat, ketika sehari sebelum pertunjukan ini berlangsung, saya coba telpon Teddy - nama yang tertera di e-poster acara untuk memesan tiket - dan ternyata tiket sudah habis terjual, gak ada OTS. Antara kesal dan menyesal. Saya berpikir bahwa akan ada tiket OTS.

Tapi, saya gak pantang menyerah, hari Sabtu, beberapa jam sebelum pertunjukan saya mencoba search di twitter, kali-kali aja ada yang mau jual tiketnya, dan.......termasuk golongan orang-orang yang beruntung lah saya ketika ternyata ada yang jual kelebihan tiket, karena temannya gak jadi nonton. Tanpa pikir panjang, saya langsung mention pemilik tiket tersebut : Budi Iskandar ( yang lucunya saat acara, secara gak sengaja kami duduknya sebelahan). Emang dasar rejeki, akhirnya saya dapat tiket pertunjukkan malam itu.

Lalu, materi Adri yang mana yang membekas?
Akting sinetron yang sama kaya bokep. Ha ha ha materi ini cukup menarik,
Kehidupan setelah pernikahan : betapa annoyingnya suara hairdryer di pagi hari, dan udahlah terima aja, cewek itu kalau make up ama gak make up emang beda. Materi ini bangke sih sebenernya, tapi lucu banget. Dan soal kenapa kalau udah nikah dan lagi berantem, kudu udah baikan sebelum tidur, bukan karena umur gak ada yang tau, tapi lebih karena, males aja gitu bangun pagi dan harus melihat muka orang yang rasanya mau dicekek semalam.

Daaaaannnn Adri menutup dengan materi soal pijet, pijet plus-plus, pijet plus-plus yang akhirnya pakai hati, ya gak papa juga kalau sampai pakai hati dan mau dinikahin. Sama aja kaya ya gak papa juga kalau mau beli mobil seconda kan, tapi jangan heran kalau pas ada teman yang naik mobil lo dan bilang "KAYA PERNAH NAIK MOBIL INI,"

Akhirnya malam Minggu yang agak gerimis serta diwarnai pulang ketemu bubaran bola di Senayan itu menyisakan tawa yang masih membekas sampai sekarang. Seratus ribu yang gak sia-sia. Kurangnya cuma satu : KURANG LAMA. Ha ha ha

3

23 February 2015

Saya sering dapet pertanyaan model begini "kenapa sih lo suka banget stand up comedy?" atau "Emang dimana lucunya sih stand up comedy? Gue nonton di tv ga ada lucu-lucunya. Garing"
Ditanya seperti itu kadang saya bingung mau jelasinnya seperti apa. Karena kalau mau dijelasin panjaaaang, bisa kaya kuliah 3 sks :p dan belum tentu yang nanya mau denger penjelasan saya yang panjang lebar :D

Jadi kadang saya cuma jawab, ya masalah selera sih. Atau kadang jawaban ngasal saya adalah : ya menurut gue lucu kok. Apalagi kalau nonton live nya.
Tapi buat yang nanya, mungkin yang ada di pikiran mereka adalah : yaaah gimana mau nonton live, kalau nonton yang di tv aja garing.

Naaah, makanya saya kepikiran buat nulis kenapa sih saya suka banget nonton stand up comedy. Ini memang bukan tulisan pertama saya soal standup comedy, sebelumnya saya juga pernah menulis soal stand up comedy. Kalau ada waktu, monggo lho di baca. 

Jadiiiii,alasan kenapa saya suka banget standup comedy mungkin adalah pertama karena jenis komedi ini  BEDA, gak hanya bikin orang ketawa, tapi juga mencerna materi yang dibawakan oleh si komika (buat yang belum tahu, komika itu sebutan untuk pelaku standup). Intinya bisa ketawa dan mikir di saat yang bersamaan. Yaelah ribet amat mau ketawa aja pake harus dibarengin mikir segala.  Nah, disitulah bedanya jenis komedi ini dengan komedi yang lainnya. Ada pesan atau idealisme yang ingin di sampaikan oleh si komika. Walaaaaau, sekali lagi tergantung komika nya. Ada juga kok materi-materi yang lebih nge pop, yang ngomongin soal hubungan misalnya, atau soal kejombloan. Seperti yang pernah saya singgung di tulisan sebelumnya. Karena begitu banyaknya komika di Indonesia sekarang, maka pilihan ada di tangan kita. Kita diberi kebebasan untuk memilih komika mana yang mau di tonton. Tergantung selera. Para komika sekarang juga menurut saya mulai menentukan target marketnya sendiri. 

Saya kasih contoh untuk materi yang bisa memecah tawa dan mikir sekaligus. Materi dari Arie Kriting, juara 3 stand up comedy season 3 Kompas TV kemarin. Arie ini berasal dari wakatobi, walau saat ini dia sedang kuliah di Malang. Saya lupa tema apa yang harus di bawakan komika saat itu, tapi yang saya ingat dalam materinya Arie kurang lebih seperti ini (dengan logat Indonesia timur) : "pernah pas saya pulang kampung waktu itu, teman saya ngajak pergi, Arie ayo kita piknik. Saya tanya ke teman mau piknik kemana kita. Teman jawab, ke jalan baru. Saya jawab oke. Saya membayangkan ke jalan baru ini seperti apa ya. Beberapa menit kemudian sampailah kita ke jalan baru. Dan ternyata jalan baru itu adalah ya jalan baru. Jalanan yang baru. Jalan yang tadinya tanah kemudian dikasih aspal. Dan semua orang berwisata disitu, bapak2, ibu2 semuanya ada disituuu. Saya bilang ini mungkin karena kita jarang2 liat pembangunan disini kali ya,"

Perhatikan kalimat terakhir : INI MUNGKIN KARENA KITA JARANG-JARANG LIAT PEMBANGUNAN DISINI KALI YA. Kalimat ini adalah puncline nya, yang nonjoknya. Di awal kita di ajak Arie untuk ikut mikir kira2 piknik ke jalan baru itu seperti apa, tetapi logika kita seakan ikut di balik sama Arie, ketika ternyata yang dimaksud dengan jalan baru ya benar2 jalanan yang baru. Tadinya tanah sekarang sudah di aspal. Ada kalimat sindiran disitu, karena pemerintah pusat selama ini terfokus hanya membangun di daerah jawa, sementara daerah timur jarang. Sehingga ketika ada sesuatu yang baru contohnya jalanan baru, secara sadar ataupun tidak sadar menjadi objek wisata bagi penduduk setempat. Kegelisahan inilah yang diangkat Arie dalam materinya, dan berhasil menuai tawa yang pecah. Mungkin kalau saat itu saya ada disana menonton langsung, saya akan memberikan standing applause buat Arie.

Contoh materi itu yang saya maksud dengan ketawa dan mikir sekaligus. Bahwa ada kegelisahan-kegelisahan yang coba dituangkan dalam materi standup comedy oleh para komika-komika ini, yang secara tidak langsung akhirnya membuat saya ikut berpikir, iya bener juga ya.
Ada banyak sebenarnya contoh lain, tetapi terlalu panjang kalau saya tulis disini.

Alasan kedua adalah karena materi yang dibawakan sering memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga membuat saya berkomentar : iya bener, bener. Sehingga tawa yang dihasilkan lebih nyata, karena ya itu tadi ada kedekatan dengan yang sering terjadi dikehidupan kita sehari2, yang sering kita jumpai, atau mungkin kita sendiri pernah mengalami. Jadi, materi yang disampaikan oleh si komika seolah-olah mewakili diri kita.

Terus alasan lainnya adalah, udah bosen aja dengan lawakan yang ada di tv. Ketika bosan, dan butuh alternatif, maka standup comedy adalah alternatif yang saya pilih, dan kebetulan jadi keterusan bahkan saya seperti addict dengan stand up comedy. Kalau udah sebulan atau dua bulan aja ga nonton live standup, kaya ada yang kurang gitu, saya jadi suka nyari tahu info soal show stand up. and thank god, bulan ini ada dua event show stand up, yang terdekat adalah tanggal 18 Mei besok, stand up ProvocativeProactive, disini biasanya ngomongin mulai dari masalah politik, agama, sosial, sampai sex, di bahas secara terbuka cenderung vulgar. Disarankan untuk memiliki pemikiran yang terbuka. Lalu tanggal 26 Mei ada tarung tawa, materinya lebih nge pop dan lebih ringan.

Buat yang belum pernah nonton secara langsung, coba deh sekali-sekali nonton live, dan rasakan bedanya. Tawa yang dihasilkan lebih luar biasa dibanding dengan yang di tv. Kalau selama ini merasa yang di tv garing, mungkin salah satu penyebabnya adalah kita memiliki referensi yang berbeda dengan si komika. Atau karena keterbatasan durasi yang membuat materi komika ada yang di cut, sehingga yang ditayangkan menjadi tidak utuh, atau bisa juga mungkin karena materi si komika bukan ditargetkan untuk kita. Contoh misal anak sma yang mungkin akan lebih senang nonton raditya dika yang tampil di banding sammy misalnya. Karena radit materinya lebih masuk ke anak-anak sma atau kuliah, ketimbang sammy atau adriano yang lebih sering ngomongin politik, sosial, rumah tangga, atau Pandji yang sering ngomongin keluarga, nasionalisme dalam materinya. Tapi bukan berarti sammy, adriano ataupun Pandji ga lucu, mereka lucu pada pasarnya, begitu juga Radit. Ini soal selera. Sekali lagi seperti yang pernah saya tulis disni. Bukan lagi nonton apa, tapi nonton siapa.

Alasan yang terakhir kenapa saya suka stand up comedy adalah sebagai penyeimbang aja. Saya udah pusing di kejar target billing sama kantor, belum lagi target lainnya, seperti target nikah #eh #jangan #tarmalahcurhat : p, nah stand up comedy itu penyeimbang di kala saya stress dan butuh ketawa lepas. Beban saya kaya ilang aja gitu abis nonton orang bicara tentang kegelisahannya dia, tapi bisa buat orang lain ketawa. Menurut saya itu luar biasa. Jadi thank you banget buat komika-komika Indonesia yang sudah membagi kelucuannya. Saya puasa tertawa karena kalian. VIVA LA KOMTUNG!!!





4

27 December 2013

Mumpung masih inget, mumpung masih segar di ingatan, dan yang paling penting mumpung lagi niat, saya mau sedikit mencatat soal Mesakke Bangsaku, 21 Desember lalu. Ini adalah show special ke tiga Pandji yang saya tonton, setelah sebelumnya di 2011 dan 2012 ada Bhineka Tunggal Tawa dan Merdeka Dalam Bercanda. Gak kerasa sudah setahun berlalu dari pertunjukkan di 2012, waktu itu saya mencatat nya di sini, di foto yang saya posting di bagian akhir, tertulis 'Menanti 2013', daaaaan tadaaa, ternyata gak lama menunggu 2013. Dan seperti yang sudah saya duga, show nya selalu mengundang decak kagum, tawa yang pecah, standing ovation, serta pembelajaran baru. Pokoknya selalu ada nilai lebih dari sekedar tertawa.

Kegelisahan Pandji akan pendidikan Indonesia dan bagaimana kaum minoritas di perlakukan di negara ini di ungkap secara cerdas dan lucu selama dua jam lima menit. Waktu yang sangat lama untuk seseorang bisa dengan lancar dan sukses membuat hampir 1200 orang yang hadir di Teater Jakarta Taman Ismail Marjuki, tertawa terbahak-bahak, sambil berpikir 'iya bener juga ya' dalam waktu yang bersamaan.

Seperti biasa show Pandji (apapun itu) selalu mulai tepat waktu, jam delapan teng!
Dibuka denga penampilan Arief Didu, komika yang jarang di kenal sebagai komika. Untuk itulah mungkin ia dipilih Pandji sebagai opener, karena dari sekian banyak komika, dia yang paling mesakke (kasihan). Gak mesakke gimana coba, lebih sering di telpon untuk di tanya nomor telpon komika lain, padahal sendirinya adalah komika. Ibaratnya si Arief pedagang tahu di pasar yang di datangi ibu-ibu, kemudian di tanya "Bang, pedagang tahu yang sebelah gak jualan?" dan di jawab "Gak bu, kenapa?" " si ibu pun menjawab "Mau beli tahu bang," "Lha kan saya jualan tahu juga buuuuuuu,". Begitu lah kira-kira, Arief meng-analogikan dirinya seperti pedagang tahu yang gak dianggap pedagang tahu :))

Setelah kurang lebih lima belas menit  - kalau saya ga salah - Arief Didu melempar bit-bitnya, yang di balas penonton dengan tawa yang renyah, maka penampilan yang ditunggu-tunggu dari sang empunya acara hadir dengan balutan Jas dan kemeja Hitam, yang dari bangku penonton Diamond terlihat lebih langsing (ini beneran, bukan pereus). Penampilan Pandji di awali dengan terbukanya tirai hitam yang ada di panggung, lalu terlihat lah latar panggung dengan pohon yang mesakke dan satu kursi serta meja yang menemani. Pandji kemudian membuka shownya dengan agak sedikit berani cenderung beresiko, dengan berujar bahwa untuk yang baru pertama kali nonton shownya GUOBLOK, karena udah dua kali bikin show kenapa baru sekarang nonton. Dan saya cuma bisa nyengir, ups! Start yang bagus sebenarnya, karena mungkin akan membuat penonton yang baru kali pertama hadir, akan semakin penasaran seberapa menghibur dan pinternya Pandji sih dalam stand up comedy. Dan bisa jadi bumerang, jika seandainya malam itu Pandji diluar harapan, dengan kata lain misal show nya gak sukes, joke nya basi, delivery serta act outnya gagal. Tapi bukan Pandji namanya, kalau tidak bisa mendelivery materi dengan sangat cerdas. Maka mungkin, ini mungkin lho ya, setelah show malam itu, ketika Pandji berhasil bikin pecah tawa semua yang hadir, penonton yang baru pertama kali datang akan balik berujar ke dirinya sendiri : iya ya goblok ya gue ya, kenapa baru datang sekali ini, kalau tahu show nya sepecah ini.

Setelah puas menggobloki penonton, Pandji memulai melempar bit demi bit, di buka dengan bit tatapan kasih putih Glen Fredly, lalu memaparkan data mengenai golongan minoritas di Indonesia, termasuk di dalamnya golongan pengusaha, keturunan tionghoa, difabel, dan gay (kalau ada yang kurang, maaf, karena saya ga nyatet, cuma berdasar ingatan). Bit yang memorable dan buat saya ketawa kalau mengingatnya adalah bit soal berteman dengan gay, dan gay main voli. Bit soal berteman dengan gay itu buat cewe benar adanya. Berteman dengan gay itu menyenangkan, dan mereka sangat menghibur. Kemampuan Pandji dalam riffing pun tidak perlu di ragukan, selalu berhasil. Penonton yang ada di kursi depan harus selalu waspada, karena bisa jadi korban riffing Pandji. Ga peduli, cowo atau cewe, tua atau muda, straight atau gay.

Bit Pandji favorit saya adalah ketika menjadikan Dipo (anak pertamanya) dan Mba Mila (istrinya) sebagai bahan. Bit soal ngorok dan ngigau, serta bit soal ngajak Dipo sholat Jumat bener-bener bikin ketawa gak berhenti. Selain jago riffing, kemampuan act out Pandji juga luar biasa. Sejauh ini yang saya tahu oke dalam act out adalah Pandji dan Ge Pamungkas (mohon di bantu diingatkan kalau ada yang lainnya). Walaupun jarak dari kursi saya ke panggung cukup jauh, tapi terbantu dengan dua giant screen yang ada di sisi kiri dan kanan panggung, sehingga penampilan act out Pandji terlihat dengan jelas.

Malam itu Pandji menjadikan kegelisahannya terhadap pendidikan sebagai materi yang cerdas sekaligus lucu.
Perhatikan gambar di bawah ini :
Foto dari twitter
Begitulah yang terjadi di negara kita, sistem pendidikan di tentukan oleh standard, dan Pandji membahasnya dengan analogi-analogi yang mampu membuat tertawa dan mengangguk-angguk membenarkan. Selain itu Pandji juga mengungkapkan kenyataan susahnya menjadi beda karena takut dianggap bodoh, padahal mungkin sebenarnya visioner :)) buat yang nonton pasti tahu bit yang mana ini. Bit soal pertanyaan berapa planet yang ada di bumi.

Selain itu, hal yang penting yang juga diungkapkan Pandji adalah soal membedakan fakta dan opini, karena media belakangan suka mencampurkan opini ke dalam muatan beritanya. Terakhir, Pandji melempar materi yang jadi favorit saya (mungkin juga semua penonton malam itu) soal pencurian mesin atm yang gagal. Sumpah ya ini Pandji iseng bener nyari berita soal ini, tapi kalau gak gitu, saya juga gak tau kalau ada yang guoblok nya kebangetan. Udah berhasil bawa mesin atm nya ke rumah, tanpa ketahuan, eh malah ending ceritanya harus di penjara juga, gara-gara tetangganya curiga saat si maling membanting-banting barang yang ada di rumahnya lantaran kesel. Lha napa kesel? soalnya yang doi bawa, mesin atm no tunai. Goublokkkkk :))))

Begitulah kira-kira yang berhasil saya catat dalam memori ingatan saya yang kapasitasnya gak gede ini. Pandji membuktikan, semakin tahun, performanya sebagai stand up comedian semakin menunjukkan kualitas. Tiket termahal 400 ribu pun di beli penonton. Ini pun menjadi rekor saya dalam membeli tiket stand up yang biasanya berkisar di harga seratus ribuan, kini saya harus mengeluarkan tiga ratus tibu untuk menonton sebuah pertunjukkan. Lebih dari pertunjukkan sebenernya, karena sejatinya ini adalah sebuah karya, dan saya menghargai karya-karya nya Pandji. Untuk itu saya puas dengan apa yang saya saksikan malam itu. Sekali lagi saya pulang dengan tawa yang sangat pecah.

Di akhir pertunjukkan, setelah Pandji melempar bit nya yang terkahir, kami semua, penonton yang datang malam itu, memberikan standing ovation buat Pandji. You deserve it mas :)


0

Author

BTemplates.com

Checkpagerank.net